Background

The Friends of the Papua Nature Institute is a local Papuan NGO sponsored by the Baliem Arabica Co-operative to function based on the mandate of the cooperative towards the surrounding environments (social and natural) where the cooperative exists, the Land of Papua.

Chapter 1 SAPA works for the Universal Law of the Nature, NOT the Anthropocentric Natural Law

Natural law is a philosophy that certain rights or values are inherent by virtue of human nature and can be universally understood through human reason. Historically, natural law refers to the use of reason to analyze both social and personal human nature to deduce binding rules of moral behavior. The law of nature, as it is determined by nature, is universal [From Wikipedia, the free encyclopedia].

The moral law is called natural law because it is based on our nature as rational beings. It is not based on the nature of irrational beings, such as animals, plants, or inanimate matter. When scientists refer to the laws of nature, they mean physical laws such as the law of gravity or the laws of thermodynamics. [in What’s the difference between the natural law and the laws of nature? <http://www.catholic.com/quickquestions/whats-the-difference-between-the-natural-law-and-the-laws-of-nature>]

More Links:

  1. About SAPA
  2. Core Values of SAPA
  3. Core Programmes of SAPA
  4. Core Objectives of SAPA

Other Related Sites:

  1. Salam Papua (Indonesian version)
  2. Suara Alam dan Adat Papua
  Yayasan Sahabat Alam Papua atau Institut Sapa, disebut dalam bahasa Inggris the Friends of the Nature of Papua Institute ialah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang di-disponsori oleh Koperasi Serba Usaha Baliem Arabica untuk menjalankan mandat dan fungsi tanggungjawab perusahaan kepada lingkungan (lingkungan alam dan lingkugan sosial sekitar koperasi yaitu di Tanah Papua

Chapter 2 SAPA Bekerja untuk Hukum Alam Universal, BUKAN Hukum Alam Antropossentris

(Hukum alam ialah sebuah filsafat bahwa hak dan nilai-nilai tertentu melekat kepada kebajikan/ kebijakan alamiah manusia dan dapat dipahami secara universal dengan alasan-alasan manusiawi. Secara historis, hukum alam merujuk kepada penggunaan alasan untuk menganalisis baik tabiat alamiah dari sosial dan pribadi untuk mendeduksi aturan-aturan yang mengigat dari perilaku moral. Hukum alam sebagaimana ditentukan oleh alam, merupakan universal  [From Wikipedia, the free encyclopedia].

Hukum moral disebut hukum alam karena ia didasarkan atas kodrat makhluk rasional. Ia tidak didasarkan atas kodrat tak berakal, seperti hewan, tumbuhan, dan t. Saat statistik merujuk kepada hukum alam, maksud mereka ialah hukum fisik seperti hukum gravitasi atau hukum termodinamik

Catatan:

Silahkan kunjungi halaman dan situs dalam column sebelah untuk mengetahui informasi lebih lanjut dan untuk ikut terlibat dalam upaya-upaya perlindungan alam dan adat Papua, secara khusus berdasarkan perspetif dan kearifan Masyarakat Adat Papua.

 Length: [525] words., and modified on December 17th, 2016.